Pagi hari…. Jumat,15 Januari 2016 kemarin ,seperti kebiasaan  ketika saya buka hp hal pertama yang  saya  lihat-lihat  adalah pemberitahuan pesan di Whatsapp. Terkadang kebanyakan obrolan santai diselingi gojeg2 temen satu  SMA, Kuliah, dan Kantor yang tak  jarang  bisa membuat senyum-senyum   bahkan  seringpula ketawa-ketawi sendiri ga jelas dipojokan ketika ada  kawan yang berbagi pesan lucu plus gokil.  Nah saat itu ada salah satu pesan yang  sangat bagus sekali sehingga tergerak hati saya untuk menuliskan kembali pesan dari seoarang sahabat tersebut dalam blog saya ini.

 Dari Ustadz Dwijo Muryono


Saya pernah nanya begini kepada beberapa orang peserta pelatihan : " Misalnya Anda bangun terlambat menuju ke bandara. Secara kalkulasi jelas gak bakalan terkejar. Tapi,  Anda teruskan itu perjalanan ke bandara.  Eh lha kok macet parah.
Menurut Anda sial atau beruntung ?
Peserta          : " Sial Pak.... Udah bangun telat eh kena macet"
Saya              : " Lha.. ternyata pesawat Anda delay penerbangannya 4 jam. Sehingga anda bisa naik pesawatnya, alias enggak ketinggalan. ini Anda sial atau beruntung ? "
Peserta           : " Wah ya beruntung pak "
Saya               : " Nah di ruang tunggu yang sama, ada orang yang mengejar kerjasama bisnis.Kalau terlambat ia kehilangan proyek bernilai milyaran rupiah. Gara-gara delay pesawatnya, dia kehilangan proyek itu. Menurut Anda, orang itu sial atau beruntung ?"
Peserta           : " Sial  Pak "
Saya               : " Nah, tapi beberapa bulan kemudian. Ternyata teman orang itu, yang memenangkan proyek karena orang itu pesawatnya delay, ternyata temannya kena tipu milyaran rupiah. Gara-gara pesawat delay 4 jam, orang itu tidak kena tipu. orang itu sial atau beruntung ?“
Peserta           : "Ya beruntung pak "


Dari percakapan di atas, nampak bahwa sebenarnya penilaian kita atas peristiwa bisa berubah seiring waktu. Ya, seiring waktu, lalu ada kejadian lain setelahnya, maka judgement kita atas peristiwa,bisa berbalik 180 derajat.

Sebuah peristiwa yang kita katakan sial pada suatu waktu, 6 bulan, 1 tahun, 10 tahun mendatang, bisa jadi malah kita syukuri.

Mungkin saja, ada kejadian pagi ini, kemaren, 1 tahun lalu, 5 tahun lalu yang masih sulit Anda terima. "Beruntung dimananya ? Jelas jelas saya disakiti ?". Mungkin begitu penilaian Anda. Tapi lihat saja seiring waktu berlalu. Karena semua hal dalam hidup tidaklah tetap. Semuanya mengalir. Semuanya berubah.

Penderitaan dimulai, saat Kita kaku dalam menilai. Kita terus menerus memegang penilaian atas sebuah peristiwa yang tidak enak. Dan menutup mata, terhadap peristiwa kelanjutannya yang mana sebenarnya peristiwa kelanjutannya itu, menjelaskan fungsi dari peristiwa tidak enak yang sebelumnya. 
Kita akan tersesat di Jakarta, kalau menelusuri kota Jakarta tahun 2015, dengan menggunakan peta Jakarta tahun 1950.
Kita perlu mengupdate peta kota Jakarta yang kita miliki. Karena Jakarta terus berubah. Kitapun akan tersesat dalam hidup, saat kita tidak mengupdate penilaian kita atas peristiwa.
Kita melihat orang, dengan peta penilaian jadul. Kita menilai peristiwa dengan peta yang kadaluarsa. Bisa jadi orang yang kita benci  5 tahun lalu, sekarang dia berubah 180 derajat jadi orang baik. Lalu mengapa masih jadi penderitaan bagi kita ?
Karena kita masih memegang erat peta lama dalam menilai orangnya.

Mari kita update peta kehidupan kita.
Have A nice Day ^^
Jakarta, 2 Februari 2016




Siapa yang tak mengenal Bung Hatta, Wakil Presiden pertama republik ini yang terkenal sebagai seorang yang santun, dan sederhana. Walaupun menjabat sebagai wakil presiden di negeri yang kaya raya ini. Namun hidupnya sama sederhananya dengan masyarakat pada jamaknya. Bahkan konon beliaupun kadang repot tidak bisa membayar tagihan rekening listrik atau air dirumahnya.


Disamping beliau juga sebagai seorang intelektual, yang pemikiran-pemikirannya selalu berorientasi pada kepentingan kemaslahatan umat. Menurut beliau konsep kebangsaan model apapun tidak akan berguna jika terlepas dari nilai kemaslahatan umat. Kebijakan pemerintah mestilah memerhatikan apa yang menjadi kepentingan rakyat.


Tahun 1950-an, Bally adalah merek sepatu bermutu tinggi yang berharga mahal. Bung Hatta yang waktu itu seorang Wakil Presiden, berniat membelinya. Untuk itulah sampai-sampai beliau menyimpan guntingan iklan yang memuat alamat penjualnya. Setelah itu beliaupun berusaha menabung agar bisa membeli sepatu idaman tersebut. Namun apa yang terjadi ? namun uang tabungannya nampaknya tidak pernah mencukupi untuk membeli sepatu Bally bahkan sampai akhir hayatnya. Ini tak lain karena uangnya selalu terambil untuk keperluan rumah tangga atau untuk membantu kerabat dan handai taulan yang sedang kesusahan. Yang lebih mengharukan ternyata hingga wafat, guntingan iklan sepatu Bally tersebut masih tersimpan dengan baik.


Bisa kita bayangkan kala itu beliau adalah seorang wakil presiden, andai saja Bung Hatta mau memanfaatkan posisinya saat itu, sebenarnya sangatlah mudah bagi beliau utnuk memperoleh sepatu Bally.. “ namun disinilah letak keistimewaan Bung Hatta. Ia tidak mau meminta sesuatu untuk kepetingan sendiri dari orang lain. Bung hatta memilih jalannya sendiri, walaupun gagal ia capai.” Kata Andi sasono, mantan menteri koperasi era pemerintahan BJ Habibie.


Kalau kita telisik kebelakang sikap teguhnya ini tak terlepas dari sikap teguhnya menjalankan nilai-nilai islam yang sejak mula ditanamkan oleh keluarganya. Sejak kecil beliau dididik dan dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang taat melaksanakan ajaran islam. Ayah beliau merupakan keturunan ulama di Batuhampar, dekat payakumbuh, sumatera barat. Kakeknya dari pihak ayah, Abdurahman Batuhampar dikenal sebagai ulama pendiri Surau Batuhampar, sedikit dari surau yang bertahan pasca perang padri, selain belajar agama di lingkungan keluarga , bung hatta juga pernah belajar agama pada ulama seperti Muhammad jamil jambek, abdullah ahmad, dan beberapa ulama lainnya..